Get Changed- Practically!

Sermon  •  Submitted   •  Presented
0 ratings
· 16 views
Notes
Transcript

Introduction

Topik berubah merupakan topik yang tidak asing. Change, as scary and hard as it is, is often needed to keep us growing and moving forward. Saya yakin kita semua paham itu. And I belive for every believer, we have a common goal of being changed to more like Jesus Christ. That’s our end goal, apa pun posisi kita dihidup ini, tujuan sejati kita semua adalah menjadi seperti Yesus.
Meskipun hal ini gak asing dan diulang-ulang terus menerus, tapi kenapa ya kok susah banget? Konsep yang seringkali kita mengerti tapi kok ga bisa-bisa? Hal ini dikenal sebagai kesulitan moral : yaitu sesuatu yang sangat mudah dimengerti tapi sangat susah dilaksanakan.
Dan ada satu kitab yang terkenal memberikan kesulitan moral : Sangat mudah dipahami tapi sangat sulit dilaksanakan. Kitab tersebut adalah kitab Yakobus. Hari ini saya akan membagikan Firman Tuhan dari Kitab Yakobus. Yakobus merupakan kitab yang sangat praktis, realistik, sedikit sekali perhatiian dengan doktrin tapi banyak sekali tugas. Tujuan penulisan kitab ini adalah untuk men-challenge orang kristen untuk hidup dengan pengabdian penuh pada Kristus (dan bukankah itu perubahan yang kita kejar?). Tema besar Yakobus adalah Iman & Perbuatan. Satu kata kunci dalam kitab Yakobus adalah “lakukan” ( 24 results in 17 verses) , satu kata sederhana tapi sangat penting diseluruh alkitab 2,386 results in 2,078 verses. Dan seringkali kita melupakan kata ini, kita lebih suka dengan istilah teologis sanctification, pengudusan, etc, tapi ternyata kata lakukan sama pentingnya.
Kitab Yakobus menjelaskan bahwa kita memiliki tantangan untuk menjadi pelaku Firman. And that leads us to James : 1: 19-27 perikop dimana Yakobus pertama kali membahas pentingnya menjadi pelaku Firman pertama kali dalam bukunya. So my title of the sermon Get Changed - Practically! Ada tiga poin yang akan saya bagikan pada hari ini :
Throwing Out & Receiving In (The Posture of Change)
Remembering : Listening to Living (The Practice of Change)
Responding in Stewardship (The Purpose of Change)

1. Throwing Out & Receiving In (The Posture of Change)

Di James 1:21, kita melihat bahwa kita harus berani membuang hal yang buruk dan menerima yang baik (kebenaran). Bukankah ini permulaan untuk berubah menjadi lebih baik? Ini bukan rocket science—untuk mendapatkan output yang baik, kita harus memiliki input yang baik. Inilah posture of change, yaitu saat kita mengerti dan dapat memilah mana yang mau kita jadikan input untuk menghasilkan output yang kita harapkan. Dalam proses mengganti input, kita juga harus berani menguras semua hal buruk di dalam diri kita agar tidak mengkontaminasi hal yang baik.
Namun menariknya, perikop ini dimulai dengan Yakobus berbicara soal kemarahan:

19 Know this, my beloved brothers: let every person be quick to hear, slow to speak, slow to anger; 20 for the anger of man does not produce the righteousness of God.

(James 1:19-20)
Apa hubungannya kemarahan dengan membuang yang buruk dan menerima yang baik? Jika kita perhatikan, kemarahan sering kali menghalangi kita dari menerima kebenaran. Anger is an intense emotional response to a perceived wrong, injustice, or frustration. Often triggered by threats, unmet expectations, or personal offense. Saat kita marah, kita menjadi defensif, sulit mendengar, dan cenderung membenarkan diri sendiri.
Kemudian, Yakobus berkata bahwa kita harus membuang segala sesuatu yang kotor dan penuh kejahatan untuk bisa menerima firman dengan lembut (ayat 21).
Wadah penuh racun / GIGO
Ini seperti wadah yang penuh racun—jika tidak dikosongkan terlebih dahulu, maka hal baik yang dituangkan ke dalamnya pun akan tercemar.
Prinsip ini juga sejalan dengan konsep "garbage in, garbage out"—jika kita terus menerus mengonsumsi hal-hal negatif, maka output kita pun akan negatif. Tetapi jika kita memilih untuk menerima firman Tuhan dan membiarkan kebenaran membentuk pola pikir kita, maka output kita pun akan lebih selaras dengan kebenaran.
Jadi, dari hal ini kita mengerti "A heart too full of anger has no room for truth—empty the junk, so wisdom can move in."

2. Remembering: Listening to Living (The Practice of Change)

Yakobus 1: 22-25 merupakan ayat yang cukup dikenali banyak orang. James 1:22-25
James 1:22–25 ESV
But be doers of the word, and not hearers only, deceiving yourselves. For if anyone is a hearer of the word and not a doer, he is like a man who looks intently at his natural face in a mirror. For he looks at himself and goes away and at once forgets what he was like. But the one who looks into the perfect law, the law of liberty, and perseveres, being no hearer who forgets but a doer who acts, he will be blessed in his doing.
Di sini, Yakobus benar-benar menekankan bahwa kita punya tantangan besar—bukan cuma jadi pendengar, tapi juga pelaku Firman. Jika tidak kita membohongi diri sendiri. Seperti orang yang bercemin dan melihat pergi, Ia akan langsung lupa. Demikian dengan kebenaran, kita akan lupa jika tidak melakukannya.
Having Recipe VS. Cooking
Bayangin punya resep terbaik di dunia. Tapi kalau cuma dibaca tanpa pernah dicoba, apakah kita jadi jago masak? Enggak. Masak itu bikin kita engage—kita akan terus ngecek, terus ngeliat, sampe kita hafal resepnya (udah otomatis) dan kita jadi ahli dalamnya.
Demikian dengan kebenaran/ Firman Tuhan, semakin kita melakukannya semakin kita akan enggage dan mengerti lebih dalam dan semakin kita akan secara otomatis mengingat dan menghidupinya. Sampai akhirnya, itu jadi bagian dari kita—bukan sekadar teori, tapi sesuatu yang otomatis kita jalani.
Dan apa yang Yakobus bilang? Saat kita memilih jadi doer who acts, kita akan berbahagia.
“Doing it is the antidote of forgeting — Just do it.”

3. Responding in Stewardship (The Purpose of Change)

James 1:26–27 ESV
If anyone thinks he is religious and does not bridle his tongue but deceives his heart, this person’s religion is worthless. Religion that is pure and undefiled before God the Father is this: to visit orphans and widows in their affliction, and to keep oneself unstained from the world.
Pada bagian terakhir perikop ini Yakobus menjelaskan bagaimana kita dapat membedakan ibadah yang murni dan yang sia-sia. Kita dapat melihat bahwa ibadah sejati bukan soal tampilan luar, tetapi tentang bagaimana kita mengelola hidup, hati, dan tindakan kita di hadapan Allah. Pengelolaan ini lah Stewardship. Posisi sejati dan level tertinggi yang dibisa dicapai untuk seorang Kristen adalah terus mencari perkenanan Allah.
Worship is stewardship—every word and deed counts.

Closing

James, a skeptic to a steward

Izinkan saya menutup sharing ini dengan satu hal.
Tahukah Anda siapa penulis kitab yang begitu praktikal, begitu to the point, yang menetapkan standar hidup baru untuk mencari perkenanan Allah? Seorang yang dengan tegas mengakui dirinya sebagai hamba Tuhan Yesus Kristus?
Yakobus.
Yakobus, saudara Yesus. Seorang yang tumbuh besar bersama Kristus, mengenali-Nya lebih dari banyak orang. Tapi, tahukah Anda? Yakobus ini diduga sebagai salah satu saudara yang tidak percaya kepada Yesus. Ia seorang skeptis. Namun, sebuah perjumpaan ilahi dengan Yesus yang telah bangkit mengubahnya.
Perubahan ini begitu radikal. Hikmatnya berubah. Standar hidupnya berubah. Dari skeptis, ia menjadi seorang steward—seorang yang mengelola hidupnya untuk kemuliaan Tuhan.
Bukankah ini juga yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita?
Karena natur dosa kita, karena ketidaksempurnaan dan inkonsistensi kita, kita pun sering kali menjadi skeptis. Skeptis terhadap panggilan Tuhan, skeptis terhadap penyertaan-Nya, skeptis terhadap janji-Nya dalam hidup kita. Namun percayalah—Tuhan ingin mengubah kita. Ia ingin menjadikan kita steward, karena Yesus sendiri meneladani stewardship ini. Dan jika kita dipanggil untuk menjadi seperti Kristus, maka kita juga dipanggil untuk berubah dari skeptis menjadi steward.
Jadi, saya ingin bertanya: adakah bagian hidup kita di mana kita masih ragu terhadap Tuhan? Maukah kita jujur tentang di mana kita masih skeptis?
Mungkin Anda bertanya, "Tuhan, saya mau berubah, saya mau menjadi hamba-Mu, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana."
Jawabannya mungkin justru di situ. Mulailah dari hal yang paling Anda ragukan. Karena di sanalah kita belum benar-benar berjalan dalam iman. Mulailah dengan melakukan apa yang Tuhan sudah katakan, sekecil apa pun itu. Latih diri untuk taat.
Dan percayalah—saat kita terus melangkah, terus melakukan, terus setia, suatu hari kita akan melihat bahwa iman kita telah bertumbuh. Standar hidup kita telah berubah. Dan kita pun dapat dengan keyakinan seperti Yakobus tuk berkata:
"Saya adalah hamba Allah."
Ya, ini bukan perjalanan yang mudah. It’s a challenge, but still a calling.
Maukah kita merespons panggilan ini?
Related Media
See more
Related Sermons
See more
Earn an accredited degree from Redemption Seminary with Logos.