PROBLEM-PROBLEM PIKIRAN MANUSIAWI
PROBLEM-PROBLEM PIKIRAN MANUSIAWI
Yesaya 55:8-9
“8Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Kita bisa jadi hidup di dunia yang lain karena pikiran kita. Gagasan, angan-angan, dan khayalan dapat menyebabkan orang percaya hidup di dalam dunia mimpi dan tidak terjangkau oleh kenyataan.
Mintalah agar Allah menunjukkan sumber kekuatan rohani yang memimpin dan mengarahkanmu. Ketika Allah memperbaharui pikiran-pikiran kita (system pusat susunan syaraf manusia terletak di dalampikiran kita), maka pola pikiran, emosi, urat-urat syaraf, gerak-gerik, perbuatan, dan perangai kita akan diubah menjadi seperti Kristus. Allah ingin membuat kita mulia dan indah bagi Diri-Nya. Ia ingin agar karya penyucian-Nya terjadi lebih dalam daripada pengampunan dosa saja. Ia ingin memperbaharuni dan menyucikan setiap bagian diri kita, yaitu tubuh, roh, dan jiwa (yang di dalamnya ada : pikiran, perasaan, kehendak).
PROBLEM-PROBLEM PIKIRAN MANUSIAWI KITA :
1. Khayalan-khayalan
Yaitu : hal-hal yang kita khayalkan (imajinasikan) dan seolah-olah benar, tetapi ternyata tidak.
Manusia banyak menderita karena hal-hal yang mereka khayalkan (ketakutan-ketakutan akan apa yang akan terjadi di kemudian hari, ketakutan-ketakutan akan apa yang akan terjadi di kemudian hari, ketakutan-ketakuan akan apa yag dikatakan/dipikirkan orang, dll.)
Yakub tertekan selama lebih dari 22 tahun atas bayangan kematian Yusuf, anak yang dikasihinya. Padahal faktanya Yusuf tida meninggal, dan dia sedang berada di Mesir, dipersiapkan menjadi seorang pemmpin dunia (baca Kejadian 37:32-36)
Bilangan 5:14b, “atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya,…” mengisahkan tentang suatu roh cemburu yang menguasai seorang suami karena ia membayangkan isterinya telah berlaku tidak setia, namun ternyata tidak demikian. Saksikan : Anjar.
Khayalan-khayalan mengundang musuh masuk. Iblis mempermainkan kelemahan apapun yang dapat ia temukan. Mintalah kasih karunia dari Allah untuk mengatasi khayalan-khayalan itu. 2 Korintus 10:4-5 “4karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,…”
2. Mencoba untuk Memecahkan Segala Perkara
Orang cenderung untuk memikirkan ~ Mengapa? Kapan? Di mana? Bagaimana?
Percayakanlah masa depan, perasaan-perasaan, dan hal-hal yang membingungkanmu kepada Allah. Anda dapat membuat dirimu sendiri putus asa dengan berusaha menganalisa sendiri bagaimana Allah akan menyelesaikan rencana-Nya untuk hidupmu.
Amsal 23:4
“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini”
(Proverb 23:4 KJV “Labour not to be rich: cease from thine own wisdom.”)
Ayat ini memerintahkan agar kita berhenti memakai hikmat kita sendiri. Kuncinya adalah percaya kepada Tuhan dengan segenap hatimu, tanpa bersandar kepada pengertianmu sendiri Amsal 3:5-6 “5Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Ketika kita berpikir bahwa kita telah berhasil memecahkan suatu masalah, sebenarnya itu adalah saat untuk berdiam dan menguji ulang apa yang kita pikirkan itu, karena siapa tahu Allah punya sesuatu yang benar-benar lain di benak-Nya.
Contoh : Ketika Yusuf berumur 17 tahun, Allah memperlihatkan melalui mimpi bahwa ia akan berkuasa atas kakak-kakaknya (Baca Kejadian 37). Tetapi Allah tidak memberitahukan rinciannya kepada Yusuf. Allah tidak memberitahu saat, tempat, atau bagaimana caranya.
Jika Allah memberitahukan secara rinci, maka hal itu bisa jadi akan menghancurkan Yusuf. Demikian juga yang Allah lakukan kepada kita.
Contohnya : Saya.
Ketika awal membina hubungan dengan Pak Henry, Tuhan sudah bilang kepada saya bahwa saya pasti akan jadi ibu Gembala. Lalu banyak nubuatan-nubuatan yang datang kepada saya bahwa saya akan jadi seorang ibu Gembala yang baik, yang akan menolong Bapak untuk memperhatikan domba-domba tidak hanya di depan, tetapi saya yang muter ke belakang, ke tengah, untuk memastikan bahwa domba-domba yang Tuhan percayakan kepada kami tidak ada yang tercecer. Tapi kalau Tuhan kasih saya gambaran seluruhnya apa yang akan saya alami, bahwa saya akan banyak digossipin, difitnah, dikhianati, harus banyak menabur, dll, mungkin saya sudah mundur duluan sebelum maju.
Tetapi Tuhan kita itu benar-benar Allah yang baik, panjang sabar, dan setia. Dia membimbing dan menguatkan hati saya itu pelan dan pasti. Dia bawa saya naik level itu pelan-pelan. Sampai akhirnya saya bisa mengambil keputusan yang saya percaya itu adalah kehendak Allah dalam hidup saya.
Manusia mempunya suatu problem besar dengan pikiran yang suka menganalisa, karena ia terbiasa membuat rencana dan keputusannya sendiri yang terlepas dari rencana-rencana dan keputusan-keputusan Allah. Ketika seseorang menjadi Kristen, kebiasaan ini (daya geraknya) ikut terbawa. Orang Kristen yang baru percaya tidak terbiasa bersandar kepada seseorang, termasuk Tuhan untuk membuat keputusan-keputusan, rencana-rencana, dan masa depannya, karena itu ia mengambil jalan yang sesuai dengan pikiran alamiahnya sendiri. Kuncinya adalah dengan belajar bersandar kepada Allah.
3. Kebutaan Mental
Kita mungkin saja mempunyai suatu problem namun tidak menyadarinya.
Kita semua, termasuk saya, punya titik-titik kebutaankekurangan. Masalahnya adalah kita menyadari letak kebutaankekurangan kita atau tidak? Amsal 21:2 “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”
Setiap orang berpikir bahwa ia benar dan jalannya sudah lurus. Tuhan sering kali biarkan orang merasa begitu, sampai pada suatu titik, Tuhan akan membuktikan bahwa yang dia pikir benar, bahwa dirinya paling benar, keputusannya benar, perkataan dan perilakunya benar, itu ternyata salah total di mata Tuhan.
Setiap orang dalam Alkitab itu mempunyai suatu problem yang tidak dapat mereka lihat. Yakobus dan Yohanes tidak mengerti “roh apa yang ada di dalam mereka.” (Lukas 9:54-55) Luke 9:54-55 “54And when his disciples James and John saw this, they said, Lord, wilt thou that we command fire to come down from heaven, and consume them, even as Elias did? 55But He turned, and rebuked them, and said, “You know not what manner of spirit you are of…”
Imamat 4:2-3
“2Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya, 3maka jikalau yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, sehingga bangsanya turut bersalah, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN karena dosa yang telah diperbuatnya itu, seekor lembu jantan muda yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa.”
Di sini kita melihat bahwa seorang imam (seorang pelayan Tuhan) bisa berbuat dosa tanpa dia menyadarinya. Ini membuktikan bahwa seorang pemimpin mungkin saja diurapi Allah, namun masih memiliki kebutaan dan kelemahan dalam bidang-bidang kebenaran tertentu. Saya dan Bapak misalnya, meskipun kami adalah Gembala Senior, tidak berarti kami sempurna. Saya malah berterima kasih, jika ada anak-anak yang memberikan masukan kepada kami dengan kasih, supaya kami bisa memperbaiki diri lebih lagi. Mama saya pernah kasih masukan ke saya, kalau saya kotbah kata Mama wajah saya sering kelihatan judes. Saya berusaha untuk memperbanyak senyum, tetapi memang tergantung juga pada pesan yang saya sampaikan. Kalau saya lagi menekankan tentang akibat dosa adalah neraka, saya tentu saja tidak bisa menyampaikannya dengan cengengesan dong… Nanti malah orang berpikir bahwa saya tidak serius atau yang saya sampaikan adalah bahan guyonan.
Contoh di dalam Alkitab adalah jemaat Laodikea yang merasa bahwa mereka adalah jemaat yang sempurna karena mereka kaya dan memiliki segalanya. Tetapi ternyata Allah berkata bahwa mereka “miskin, buta, dan telanjang”. Wahyu 3:17 “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,…”
Ayub disarankan untuk berdoa bagi “kebutaannya”. Ayub 34:32 “apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku; jikalau aku telah berbuat curang, maka aku tidak akan berbuat lagi,…”
Banyak orang Kristen sesungguhnya mati konyol karena mereka tidak pernah belajar apa yang ingin ditunjukkan Allah kepada mereka. Mintalah agar Allah memberikan kepada kita roh yang mudah dibentuk, hati yang lemah lembut, sehingga Allah mampu membuka pikiran kita sehingga kita mengerti Lukas 24:45 “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”
4. Merenungkan Hal-hal yang Tidak Diperkenan
Yaitu : pikiran-pikiran negatif, ketakutan, amarah, keinginan untuk membalas dendam.
Benak kita terdiri dari tiga hal : sel-sel otak, darah, dan roh. Karena itu apa yang kita pilih untuk kita renungkan mempengaruhi tubuh, jiwa, dan roh kita. Renungan-renungan yang jahat merangsang system urat syaraf, kelenjar-kelenjar, dan organ-organ serta menyebabkan semur ini berkasi berlebihan sehingga memproduksi zat yang asam secara berlebihan ke dalam aliran darah dan ini dapat membuat kita jatuh sakit secara jasmani dan rohani. Pikiran-pikiran yang buruk ini harus dibalikkan, karena dapat meracuni roh, jiwa, dan tubuh kita. Belajarlah untuk menolak merenungkan kejahatan atau sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk menyakitimu. Berdoalah untuk mereka.
1 Petrus 1:13
“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.”
Ayat ini memerintahkan agar kita “menyiapkan akal budi/pikiran kita”. Ini berarti bahwa renungan-renungan atau pikiran kita itu berada di dalam kekuasaan kita dan kita dapat menerima atau menolak pikiran-pikiran itu.
Paulus memberitahu kepada kita apa yang harus kita pilih untuk kita renungkan Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Kadang kala kita tidak dapat disembuhkan dari suatu penyakit sebelum kita membalikkan sesuatu yang tidak sesuai dengan jiwa kita, misalnya : kepahitan, dendam, iri hati, kritik, ketakutan.
5. Pikiran yang Angkuh
Yaitu : Pikiran yang merenungkan hal-hal yang tinggi tentang diri sendiri.
Roma 12:3
“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”
Ayat ini memperingatkan kepada orang-orang percaya untuk tidak berpikir terlalu tinggi tentang diri kita sendiri. Godaan untuk berpikir bahwa kita istimewa atau “luar biasa” itu selalu ada, khususnya ketika seseorang memiliki karunia-karunia atau kuasa dari Allah 2 Korintus 12:7 “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.”; Galatia 6:3 “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.”
Pikiran-pikiran yang angkuh itu membuka pintu bagi lamunan dan angan-angan yang menipu diri kita sendiri Obaja 1:3 “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?"”
Rasul Petrus menganjurkan agar kita mengenakan kerendahan hati 1 Petrus 5:5b “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."”
Ayat ini senada dengan apa yang disarankan oleh rasul Paulus 1 Korintus 10:12 “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”
6. Hidup Di Masa Lalu
Yaitu : Keberhasilan atau Kegagalan yang terjadi di masa lalu.
Hidup di masa lalu menghalangi pertumbuhan kita Pengkotbah 7:10 “Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.”
Jika pikiran-pikiran kita selalu kembali kepada masa lalu, kita cenderung untuk tidak menantikan jamahan yang baru dari Allah untuk hari ini. Orang Kristen harus hidup dengan sesuatu yang baru yang ingin dikatakan Tuhan kepada kita hari ini Matius 4:4 “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."”
Kita memerlukan pertemuan-pertemuan baru dan pengalaman-pengalaman yang segar dengan Allah untuk hari ini. Paulus menganjurkan agar kita melupakan hal-hal yang telah berlalu dan mengarahkan diri kepda apa yang ada di hadapan kita Filipi 3:13-14 “13Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Bangsa Israel gagal move on, karena mereka terus-menerus ingin kembali ke tempat mereka sebelumnya, yaitu Mesir, yang melambangkan manusia lama yang berdosa, kedagingan, dan keduniawian.
Allah juga ingin agar umat-Nya melupakan sakit hati atau ketidakadilan yang terjadi di masa lalu. Salah satu ciri yang terbesar dari kedewasaan adalah kapasitas untuk mengerti ketidakadilan bekerja demi kebaikan kita, yaitu untuk membuat kita naik ke level yang lebih tinggi Kejadian 50:20 “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
Yusuf menolak untuk larut dalam sakit hati di masa lalu. Ia mampu membedakan dan menyadari bahwa luka hati dan ketidakadilan hanyalah alat untuk mendorong kita lebih dekat kepada takhta yang Allah sediakan bagi kita.
Ingat, ada suatu berkat tersembunyi dalam setiap ketidakadilan, jika kita menjaga roh kita tetap benar. Mintalah kasih karunia kepada Allah untuk melupakan kegagalan dan dosa di masa lalu. Terimalah pengampunan sepenuhnya dari Tuhan Yesus Ibrani 7:25 “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”
Termasuk juga dalam pernikahan, jangan terus mengingatkan pasanganmu kembali tentang kegagalan-kegagalan atau dosa-dosa masa lalu mereka.
7. Kurang Konsentrasi
Ini bisa disebabkan karena beberapa alasan :
- Terlalu lelah
- Terlalu banyak pikiran
- Kurang disiplin sehingga pikiran mengembara.
Pikiran kita membutuhkan istirahat yang lebih banyak dari tubuh. Dapatkanlah istirahat yang cukup dan serahkanlah segenap kekuatiranmu kepada Tuhan. Menjaga Kesehatan adalah hal yang rohaniah! Jikalah Anda tidak memelihara tubuhmu, iblis akan menyerangmu tatkala Anda kelelahan. Ini yang saya selalu ingatkan kepada Bapak Gembala, supaya dia tidak terlalu memaksakan diri. Kadang-kadang kita perlu cari udara segar bagi otak kita. Oksigen adalah kehidupan!
Saya akan menceritakan kisah tentang Bapa Reformator Gereja, yaitu Martin Luther. Martin Luther hidup bersembunyi di dalam suatu biara dan menderita di bawah pertentangan mengenai perbedaan-perbedaan doktrin dan perselisihan agamawi. Selama itu Luther tidak pernah berolah raga atau makan secara teratur dan benar. Ia mersa mengalami gangguan syaraf. Dalam kasus Luther ini, mengusir iblis bukanlah satu-satunya jawaban. Kemudian ia diberitahu oleh sahabatnya untuk keluar dan bekerja di kebun setiap hari. Dengan olah raga, udara segar, sinar matahari, ia mampu melepaskan pikirannya dari beban berat. Kesehatan Luther berubah total – secara fisi, mental, dan spiritual. Hal ini juga menolong seseorang yang mengalami sembelit. Jadi orang yang susah BAB itu kebanyakan disebabkan karena terlalu banyak beban pikiran.
Sikap terlalu serius juga dapat menjadi suatu masalah khususnya bagi orang-orang Kristen baru yang tulus hati. Berusaha terlalu keras untuk memusatkan pikiranmu kepada Tuhan adalah sesuatu yang mungkin terjadi bagi orang-orang Kristen ini . Dalam pekerjaannya, seorang Kristen haru memusatkan pikirannya pekerjaan. Majikanmu membayarmu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, bukan untuk memikirkan yang lainnya. Orang Kristen yang terlalu menggebu-gebu bisa saja terlalu keras untuk memusatkan perhatiannya kepada Tuhan, sehingga ia tidak berkonsentrasi pada pekerjaannya, yang mengakibatkan terjadinya kesalahan-kesalahan yang harus ditanggung majikannya. Mengerjakan pekerjaanmu dengan benar adalah suatu hal yang rohani Kolose 3:22-23 “22Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Kita dipanggil untuk menjadi Mempelai Kristus. Pernikahan seharusnya merupakan suatu hubungan yang tidak menegangkan, santai! Apa pendapatmu tetang seorang isteri yang berusaha dengan tegang untuk mengasihi suaminya sepanjang hari. Hal ini tidak akan menyenangkan suaminya ataupun dirinya sendiri. Namun seperti inilah keadaannya, apabila seorang Kristen berusaha terlalu keras untuk mengasihi Tuhan dan memusatkan pikiran kepada-Nya sepanjang hari sampai-sampai tidak bisa melakukan hal-hal yang harus dia lakukan. Hal ini tidak wajar dan menguras tenaga. Allah menginginkan suatu hubungan yang santai dan berdasarkan rasa percaya dan iman, bukan ketegangan antara kita dengan-Nya.
8. Kurang Damai Sejahtera
Memiliki suatu pikiran yang kacau bukanlah sesuatu yang normal. Apabila seorang Kristen terus-menerus diganggu oleh kegelisahan, pastilah ia memiliki suatu problem tertentu, dan Allah ingin memberikan jalan keluar yang berkelanjutan. Ia ingin menghadapi sumber dari segala sesuatu dalam hidup kita yang merampas damai sejahtera dan sukacita kita Mazmur 94:12-13 “12Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, 13untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sampai digali lobang untuk orang fasik.”
Ada banyak penyebab tidak adanya damai sejahtera dalam hidup seseorang, namun seringkali problemnya kembali kepada sesuatu yang tidak beres di dalam hati, yaitu : dendam, maksud-maksud yang tidak murni, ketidakpercayaan, dan lain-lain. Allah tidak menginginkan umatnya menjalani hidup yang tersiksa.
- Jengkel Mazmur 37:1 “Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang…”
Allah tidak ingin kita merasa kecewa atau kalah hanya karena kejahatan yang diperbuat orang di tempat Anda bekerja atau bersosialisasi. Allah ingin agar kita memiliki damai sejahtera yang tidak tergantung pada apa yang terjadi di sekitar kita Yohanes 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
- Ketidakpercayaan
Tidak percaya bahwa Allah memelihara kita, “Apa yang akan kita makan, apa yang akan kita minum, apa yang akan kita pakai?”
Dalam sepuluh ujian yang telah gagal dilalui oleh bangsa Israel di padang belantara menuju Tanah Perjanjian, banyak di antara mereka yang ikut mengerutu bahwa Allah tidak memelihara mereka. Ulangan 1:27 “Kamu menggerutu di dalam kemahmu serta berkata: Karena TUHAN membenci kita, maka Ia membawa kita keluar dari tanah Mesir untuk menyerahkan kita ke dalam tangan orang Amori, supaya dimusnahkan.”
Yesus berkata, “Hai orang yang kurang percaya!” Matius 6:30 “30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (baca selengkapnya dalam Matius 6:25-34)
- Kekuatiran
Yesus berkata kepada Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,…” (Lukas 10:38-42)
Inilah yang sering menjadi frustrasi ibu-ibu RT yang memiliki jadwal dari pagi sampai malam-malam hari, membuat kami-kami ini menjadi marah, putus asa, dan tidak sabar, karena begitu banyak tugas yang harus diselelsaikan tanpa seorang pun yang kelihatannya memperhatikan atau berterima kasih, atau turun tangan membantunya.
Marta mungkin adalah seorang perfeksionis yang ingin segala sesuatu itu sempurna di rumahnya, jadi dia menghabiskan sangat banyak waktu untuk urusan-urusan rumah tangga. Dia mungkin perlu lebih banyak melakukan apa yang haru dilakukan oleh saudaranya Maria. Maria mengambil waktu untuk duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Meluangkan waktu bersama dengan Raja Damai akan mendatangkan kedamaian. Marta memusatkan perhatiannya kepada perkara lahiriah, sedangkan Maria kepada Allah. Maria memiliki damai sejahtera, sementara Marta tidak, padahal mereka saudara kandung.
Walaupun memiliki suatu jadwall yang padat, kita perlu berhenti dan meluangkan waktu bersama Allah. Segala sesuatu berlangsung lebih baik dan lebih lancar bila kita melakukan hal itu. Tuhan tuh ingin sekali kita bisa memiliki iman seperti anak kecil. Percaya saja bahwa Tuhan kita adalah Bapa yang baik, yang tahu kebutuhan kita jauh melebihi apa yang bisa kita pikirkan. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Yang paling utama adalah kita harus belajar menyerahkan segala pperkara atau kekuatrian kita kepada Tuhan 1 Petrus 5:7 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”; Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Terlalu sering kita memikul beban-beban pikiran yang tidak perlu kita pikul di dalam pikiran kita. Serahkanlah terus segala kekuatiranmu kepada Yesus. Ingatlah Ia telah menanggungnya bagi kita.
Pengobatan untuk permasalahan kurangnya damai sejahtera adalah :
- Pengucapan Syukur
Ini adalah pengobatan bagi keluhan-keluhan dan kepahitan. Bencana sekalipun bisa berubah menjadi kemenangan ketika kita dapat mulai bersyukur kepada Tuhan di dalam keadaan-keadaan kita. Ketika Anda dapat bersyukur di dalam ujian Anda, maka itu berarti Anda telah memperoleh kemenangan Kolose 3:15b “…Dan bersyukurlah.”
- Kepuasan
Kalau Anda tidak bisa puas dengan apa yang telah Allah sediakan bagimu sekarang, maka Anda tidak akan merasa puas ketika Anda memperoleh hal-hal yang Anda pikir akan membuatmu bahagia. 1 Timotius 6:6 “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
Contoh :
Melihat teman punya tas branded, lalu ingin punya tas branded juga sampai kebawa mimpi. Setelah punya tas branded, apalagi sampai dibela-belain ngutang, tidak ada rasa puas juga, apa lagi damai sejahtera. Karena bakalan kepikiran gimana bayar hutang KK.
Kebahagiaan kita tidak bergantung kepada benda-benda. Kebahagiaan bergantung pada hati yang mau berubah.
9. Depresi
Yaitu : Kemurungan yang menutupi pikiran
Depresi dapat membuat kehidupan kita kelihatan suram atau tidak berpengharapan. Generasi kita adalah generasi yang tertekan. Di suatu kesempatan ketika Ayub merasa begitu tertekan, ia berkata, “…mataku tidak akan lagi melihat yang baik.” (Ayub 7:7)
Ayub berpikir bahwa situasinya benar-benar tidak ada harapan lagi dan bahwa ia tidak akan pernah merasa bahagia lagi. Ia keliru!
Ada beberapa penyebab utama depresi. Depresi dalam kasus Ayub dapat dipahami – ia kehilangan harta, keluarga, kesehatan, reputasinya hancur berantakan, teman-temannya menyalahpahami dia. Kemudian, Yusuf yang masih sangat muda dikhianati dan bahkan mau dibunuh oleh saudara-saudaranya sendiri. Lalu dijual sebagai budak, dan harus masuk penjara karena melakukan kebenaran dan mempertahankan kekudusan. Keputusasaan seperti ini sangat dapat dipahami. Memang ada saat-saat dalam pembentukan Allah di mana kita akan patah semangat dan mengalami depresi. Tetapi Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita hancur karena depresi itu. Pertolongan-Nya itu selalu tepat pada waktunya.
Namun ada banyak jenis depresi lainnya yang daripadanya Roh Kudus rindu untuk membebaskan kita. Ada suatu dukacita yang bukan dari Allah, yang daripadanya kita harus dibebaskan. Allah rindu untuk memberikan jubah pujian kepada kita sebagai ganti dukacita, dan kebahagiaan seabagai ganti ratapan Yesaya 61:3 “untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka "pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN" untuk memperlihatkan keagungan-Nya.”
Allah lebih suka kita memusatkan perhatian kita keapda Dia dan kepada apa yang dikatakan-Nya daripada memusatkan pikiran kita kepada situasi-situasi yang menyedihkan di dalam kehidupan kita, Gereja, atau dunia ini .
Depresi dapat juga berkaitan dengan sudut pandang yang keliru atas masalah-masalah. Sudut pandang Allah memerdekakan kita! Kebenaran memerdekakan kita Yohanes 8:32 “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Di atas awan mendung yang kelabu, selalu saja ada matahari yang bersinar terang di atasnya. Depresi itu seperti suatu awan kelabu yang datang menutupi pikiran, menghalangi kita dari terang hadirat dan kemuliaan Alllah. Usirlah awan kelabu itu, dan mintalah agar Allah memerintahkan terang Firman-Nya untuk menembus awan kemurungan.
Rasa terlalu lelah, depresi, dan stress secara emosional biasanya berasal dari konflik-konflik rohani yang tidak terselesaikan, bukan dari jadwal yang terlalu padat. Tidak mau mengampuni, rasa bersalah, ketakutan, dan problem-problem lain yang tidak sesuai dengan jiwa kita menguras tenaga dan cadangannya. Semakin hal-hal ini disimpan dalam hati semakin lama, maka akan timbul rasa lelah yang luar biasa atau bahkan satu gangguan dalam tubuh (organ-organ tidak berfungsi) Ilustrasikan : salah seorang memegang botol aqua.
Banyak problem di dalam tubuh yang disebabkan oleh problem-problem di dalam jiwa. Ini yang disebut psikosommatik. Namun karena ini semua adalah problem-problem rohani, saya percaya seharusnya Gereja punya jawaban-jawabannya. Dunia medis tidak mempunyai jawaban yang tahan lama. Dunia medis menggambarkan “depresi klinis sebagai kemarahan yang tidak terutarakan”. Makanya dunia medis mendorong untuk melepaskan kemarahannya dan menuntut haknya agar tekanan-tekanan yang dirasakannya itu tidak terpendam di dalam. Namun ini bukan jawabannya, karena setiap kali sifat lama dilatih, sifat itu hanya akan bertambah kuat.
Suatu pendekatan yang lebih baik dari problem ini adalah dengan :
- Memahami apa yang mendasari kemarahan kita itu. Misalnya : kemarahan berkobar karena hak-hak belum diserahkan kepada Allah, dan sesuatu yang kita pegang erat-erat dirusakkan.
- Kemudian kita membawa masalah ini kepada terang Firman. Kita bisa menemukan jawaban atas masalah ini, yaitu dalam Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Pengharapan-pengharapan juga sangat menentukan apakah pikiran kita memiliki damai sejahtera atau depresi. Pemain sepakbola Uruguay yang bernama Williams Martinez yang baru berumur 38 tahun bunuh diri di bulan Juli 2021 kemarin karena depresi memikirkan karir sepakbolanya saat itu.
Itulah sebabnya kita tidak boleh memusatkan harapan-harapan kita kepada suatu usaha, karir, bisnis, atau seorang manusia. Melainkan kita harus memusatkan diri kita kepda hal-hal yang kekal dan pada Dia yang tidak pernah mengecewakan kita Mazmur 62:6 “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.”
Kesedihan akibat kehilangan orang-orang yang kita sayangi. Ada seorang wanita yang saleh yang kehilangan kedua orang tuanya dalam jangka waktu satu tahun. Dia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan orang tuanya. Dia menjadi sangat depresi karena dukacita yang tidak bisa dia ungkapkan lagi. Selama ia mendertia dukacita dan kesedihan, Tuhan berbicara kepadanya, “Hal ini tidak memuliakan Aku! Serahkanlah dukacitamu – Aku telah menanggungnya.” Kemudian Tuhan kemudian memberinya sebuah ayat yang sangat istimewa Yesaya 53:4 “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”
Allah membukan hal ini dalam suatu cara yang baru dan nyata, bahwa Kristus bukan hanya mati bagi dosa-dosa dan penyakit-penyakit kita, namun juga untuk kesengsaraan dan derita hati. Allah tidak menginginkan kita menanggung duka cita yang tidak seharusnya kita tanggung dan melebihi kemampuan kita 1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Kristus telah menyiapkan suatu cara bagi kita untuk menanggalkan sakit hati, luka hati, dan kesedihan hati kita, sehingga kita tidak tunduk kepada ikatan-ikatan seperti ini di sepanjang hidup kita. Nenek rohani kami, Ps. Audrey Bailey ketika mulai tercekam dengan dukacita, ia masuk ke kamarnya, berlutut, dan menumpahkan segala dukacitanya kepada Yesus. Hal ini membutuhkan suatu usaha dan kegigihan. Dan dia terus melakukan hal ini berulang-ulang sampai dia dibebaskan dari dukacita secara total.
Kebenarannya di sini adalah kita tidak dapat melepaskan diri dari semua masalah hati kita dengan kekuatan kita sendiri. Terus serahkan hal-hal ini kepada Yesus, maka Anda pasti akan terlepas. Ia telah menanggung semuanya itu 1 Petrus 5:7 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
10. Konsep-konsep yang Salah
Tentang Allah, tentang orang lain, dan tentang diri sendiri.
Kita memiliki prasangka atau gagasan yang salah yang harus kita kalahkan! Yaitu :
- Tentang Allah
Satu alasan mengapa kita tidak bisa menjadi orang Kristen seperti yang diharapkan Tuhan adalah karena kita tidak mengenal Allah dengan benar Efesus 1:17 “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”
Bagaimana mungkin kita bisa dapat menjadi sama dengan gambaran Anak Allah, apabila kita tidak tahu bagaimana keadaan-Nya, atau teladan apa yang harus kita ikuti. 1 Petrus 2:21 “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”
Bila konsep kita tentang Allah adalah seperti seorang polisi yang galak, kita juga akan menjadi keras dan karena itu bersikap keras terhadap orang-orang lain. Mentalitas ini yang menyebabkan seseorang hanya memperhatikan ayat-ayat Alkitab di mana Allah sebagai Hakim, namun mengabaikan banyak ayat lainnya yang menyatakan kebaikan dan belas kasihan Allah.
Sebaliknya, jika konsep kita tentang Allah adalah Bapa yang baik, yang selalu mengampuni dan mentoleransi apapun yang anak-anak-Nya lakukan, Dia adalah Bapa yang memanjakan anak-anak-Nya dengan berkat-berkat jasmani, maka akibatnya adalah kita hidup dengan sembarangan, terus bikin dosa dan beranggapan bahwa Tuhan pasti mengampuni dan mentoleransi dosa-dosa kita, apalagi bagi kita yang sudah melayani Tuhan. Orang-orang yang punya konsep tentang Allah sebagai Bapa yang mengampuni dan mentolerir dosa seperti ini akan mengabaikan ayat-ayat tentang neraka, penghakiman, hajaran/didikan Allah, dsb. Ibrani 6:4-6 “4Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, 5dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, 6namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.”
Kita harus mengenal Alllah dengan benar dan secara utuh. Konsep-konsep yag salah menimbulkan suatu pandangan yang salah atas seluruh kebenaran Alkitab.
- Tentang orang lain.
Berapa kalikah Allah harus mengubah pikiranmu tentang orang-orang lain? Kita bersikap kasar dan penuh kritik terhadap orang lain karena kita tidak memahami ataupun memandang mereka sebagaimana Allah memandang mereka. Jika kita dapat memahami mengapa manusia bertindak sebagaimana mereka bertindak, saya yakin kita akan jauh lebih bertoleransi dan berbelaskasihan kepada mereka. Suatu pikiran yang berubah, mengubah seluruh sikap dan watak kita, mengubah respon atau penilaian kita juga terhadap seseorang.
Contoh :
Anda melihat salah seorang saudaramu di Gereja, tetapi kelakuannya itu tidak sopan, tidak tahu etika. Lalu Anda mulai memberi cap kepada dia sebagai orang yang tidak tahu tata krama dan mulai menghindari dia. Tetapi Anda tidak tahu mengapa dia jadi orang yang seperti ini. Ternyata dari bayi dia sudah dibuang oleh orang tuanya, dan kemudian dia diperlakukan dengan kasar oleh orang tua angkatnya ~ dipukuli, dicaci maki, dikutuki, diludahi, dsb. Dia lalu hidup di jalanan tanpa seorang pun yang peduli dengan dia, sampai akhirnya dia masuk ke Gereja kita. Dengan Anda mengerti latar belakang mengapa saudaramu bisa menjadi seperti itu, pasti pandangan dan penilaianmu terhadap saudaramu yang malang ini berubah kan? Dari memberikan stigma yang buruk, timbul belas kasihan di dalam hatimu.
Suatu pikiran yang diperbaharui adalah kunci penting untuk suatu perubahan sifat dasar. Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
- Tentang Diri Sendiri
Cara Allah memandang kita biasanya sangat berbeda dari cara kita memadang diri sendiri. Paulus berdoa agar ia mengenal dirinya sendiri sebagaimana Allah mengenalnya 1 Korintus 13:12 “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.”
Pendapat kita tentang diri sendiri biasanya terlalu rendah atau terlalu tinggi. Saya sering melayani pelepasan dan kebanyakan para gadis ini memiliki gambar diri yang rusak oleh karena perkataan dan perlakuan orang-orang tua dan orang-orang yang dekat dengan mereka. Maka saya selalu memperkatakan Firman Tuhan kepada mereka bahwa “Engkau berharga di mata Tuhan dan mulia” (Yesaya 43:4); “Engkau adalah biji mata Allah” (Ulangan 32:10), “Namamu tertulis di telapak tangan Tuhan” (Yesaya 49:16).
Perkataan Firman Tuhan itu itu saya deklarasikan untuk memulihkan gambar diri yang rusak.
Kadang kala seorang Kristen merasa bingung dan bertindak keliru karena ia mencoba menjadi pribadi yang tidak dikehendaki Allah. Bila kita mencoba untuk melakukan dan menjadi sesuatu yang tidak dikehendaki Allah bagi kita, maka akan timbul kekacauan dan kebingungan, dan pasti akan meleset dari sasaran. Mintalah agar Allah menunjukkan kepada Anda fungsi khusus yang Anda miliki dalam Tubuh Kristus.
Pahamilah keterbatasan-keterbatasanmu! Jangan berusaha untuk menjadi segalanya atau memahami segalanya atau melakukan segalanya. Kita hanyalah Sebagian dari tubuh Kristus. Setiap bagian itu penting namun berbeda. Setiap kita dipanggil untuk menjadi satu fungsi tertentu di dalam tubuh-Nya. Berusahalah untk mengerti kehendak Allah mengenai fungsi khusus untuk Anda. 1 Korintus 12:4-7 “4Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 5Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 6Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”
Allah hanya memberikan kasih karunia (pemampuan Ilahi) untuk berfungsi di dalam panggilan khusus yang telah Ia pilihkan bagi kita. Apabila seorang Kristen berjalan menyimpang dari kehendak dan panggilan Allah, tidak aka nada kasih karunia untuknya dan ia akan gagal.
Misalnya :
Saya sudah jelas dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi pelayan Tuhan penuh waktu, menjadi wakil Gembala Senior, menjadi Guru. Tetapi saya tidak mau melakukan panggilan Tuhan ini, saya mau menjadi Penginjil saja, karena saya suka travelling. Meskipun ini baik dan bahkan ada di dalam Alkitab, tetapi saya tidak akan memiliki kasih karunia untuk menghasilkan buah yang banyak di pekerjaan penginjilan saya, karena saya tidak dirancang dan dipanggil Tuhan untuk itu. Saya bisa gagal dengan cara yang menyedihkan, jika saya ngotot mau jadi penginjil dan tidak mau jadi Gembala.
11. Kebingungan
Suatu pikiran yang kacau dan bingung dapat disebabkan oleh banyak hal. Seseorang merasa bingung karena ia tidak dewasa dan tidak mengenal kebenaran. Kebingungan itu dapat merupakan akibat dari motif-motif yang salah. Dapat juga merupakan akibat dari berusaha menjadi sesuatu yang tidak dikehendaki Allah bagi kita. Kebingungan dapat merupakan akibat dari mencari nasihat dari terlalu banyak orang dan mendengarkan banyak pendapat yang bertentangan. Kebingungan dapat juga merupakan penghukuman Allah atas ketidaktaatan. Ulangan 28:28-29 “28TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal, 29sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong.”
Pada kesimpulannya, cara untuk memperoleh pikiran yang jernih dan dapat dimengerti adalah dengan bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Yesus berkata bahwa kita akan mampu membedakan mana yang dari Tuhan dan mana yang tidak, mana doktrin yang dari Tuhan dan mana yang tidak, jika kita melakukan kehendak Allah Yohanes 7:17 “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”
Saya sudah melihat bahwa orang-orang yang tidak taat dalam satu atau dua perintah Allah, maka orang-orang ini kemudian terseret ke dalam pengajaran-pengajaran sesat dan hidup mereka jadi liar dan berakhir berantakan.
Melakukan kehendak Allah adalah masalah hati! Seseorang akan mengenal apa yang benar dan apa yang menjadi sumber-sumber masalah ketia ia bersandar kepada Allah dan kehendak-Nya Matius 5:8 “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Otak yang pandai atau IQ yang tinggi bukanlah jalan untuk mengerti hal-hal yang rohaniah atau mengenal Allah. Justru saya banyak menemui orang-orang yang terlalu pintar itu, mereka merasionalisasi Firman Tuhan dengan otak mereka, dan menolak banyak Firman Tuhan dengan alasan bahwa Firman tersebut tidak relevan lagi dengan masa kini.
Bahkan mendalami bahasa asli – Ibrani dan Yunani pun bukan jalan keluarnya.. Dunia dan bahkan beberapa sarjana teologi memiliki pikiran yang tinggi, namun demikian mereka tidak mampu melihat dengan jelas atau memahami kebenaran yang paling sederhana. Contohnya adalah Nikodemus yang adalah salah satu dari orang-orang Farisi yang termasuk dalam Sanhedrin, tetapi tidak bisa memahami penjelasan Yesus tentang kelahiran baru. Baca Yohanes 3.
Jadi, kunci untuk memahami kebenaran bukanlah dengan memiliki otak yang pandai, melainkan memiliki hati yang berserah, memiliki “teachable spirit” (roh yang mudah diajar). Pengertian manusia yang hatinya tidak berserah kepada Allah akan dikaburkan atau dibelokkan Ulangan 29:4 “Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar.”; Daniel 12:10 “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.”
12. Alasan Manusiawi
Sebagaimana yang sudah saya kotbahkan 2 minggu lalu, pikiran alamiah kita adalah musuh kita yang terbesar Roma 8:7 “Sebab keinginan daging (carnally minded) adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”
Seluruh dunia memiliki problem mental, dan demikian juga kita. Hanya saja orang Kristen lebih sedikit memilikinya. Ingatlah apa yang dikatakan di dalam Yesaya 55:8-9 bahwa rancangan Tuhan bukan rancangan kita. Dan perbedaannya itu bumi dan langit.
Manusia masuk neraka karena memiliki gagasan, traadisi, angan-angan yang lebih mereka percayai ketimbang kebenaran Firman Tuhan. Mereka lebih percaya kata orang-orang tua, pendeta A, B, dll daripada apa yang tertulis dalam Alkitab.
Semua jalan pemikiran dan filsafat dunia itu bertentangan dengan Firman Allah. Karena itu dasar pemikiran atau gagasan yang berlawan dan menentang Firman-Nya tidak patut diperhatikan dan didengarkan.
PERBANDINGAN HATI DAN PIKIRAN
Filipi 4:7
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Damai sejahtera Allah diperlukan baik dalam hati maupun pikiran kita. Hati dan pikiran adalah dua stasiun pengirim di dalam kita. Pikiran adalah tempat di mana kita memiliki kebingungan dan tempat di mana segala hal yang tidak artinya ditampung. Kita sangat memerlukan damai sejahtera. Maka dari itu rasul Paulus melanjutkan dalam Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Sementara hati adalah pusat kasih dan perhatian. Kita juga memerlukan damai sejahtera di sini.
“Renungan-renungan Hati”
Kita berpikir dengan hati, dalam arti bahwa motif-motif yang ada di hati kita memberi perintah kepada kita apa yang harus dipikirkan dan diputuskan secara logis Mazmur 19:15 “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.”
Tuhan Yesus pun berkata tentang berpikir dalam hati Markus 2:6-8 “6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7"Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" 8Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?”
Tidak semua hal merupakan problem hati, karena hati mungkin memiliki maksud-maksud yang murni, namun mungkin otak salah diberi data atau tidak mengetahuinya. Jadi, memang mungkin kita memiliki suatu problem pikiran tanpa memiliki problem hati.
OTAK – Di sinilah tempat pemikiran-pemikiran kita diproses. Otak adalah tempat manusia menganalisa, membuat rencana, memperhitungkan, dan menyimpulkan alasan-alasan. Kasih dan perhatian kita tidak berada di sini – melainkan di hati. Namun apa yang ada di hati dapat dipilih oleh hati kita untuk direnungkan . Hati juga akan mendorong serangkaian tindakan yang dipikirkan oleh otak. Jadi problem kita yang sesungguhnya berada jauh lebih dalam daripada pikiran – karena problem-problem itu timbul dari hati.
Gambar
HATI – Ini adalah pusat roh kita ~ pusat dari segala pusat keberadaan kita yang terdalam Di sinilah letak keinginan dan motif kita yang terdalam.
Apa yang kita sembah sungguh-sungguh timbul dari sini. Di dalam hatilah (pusat roh kita), terletak problem kita yang sesungguhnya. Keputusan-keputusan y ang logis dipikirkan secara mendalam dalam otak keluar dari apa yang ada di hati. Apa yang ada di hati kita akan menentukan apa yang kita pilih untuk direnungkan dan dipikirkan di dalam otak kita. Karena itu hati lebih dalam daripada pikiran. Hati adalah SUMBER Markus 7:20-22 “20 Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, 21sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, 22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
KESIMPULAN :
Memang benar bahwa kita mempunyai banyak problem dengan pikiran kita, namun akar kebanyakan problem yang sesungguhnya ada di dalam hati kita. Percakapan dan komunikasi seringkali tidak menjawab problem itu, bila hati tidak berubah. Apa yang ada di hati mempengaruhi pikiran, pembicaraan, dan tindakan kita. Maka dari itu apa yang Tuhan perintahkan sebagai Hukum Yang Pertama dan Terutama? Markus 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Mengapa dimulai dengan SEGENAP HATI? Karena jika seluruh hati kita diserahkan kepada Tuhan, maka otomatis pikiran, perasaan, kehendak kita akan berusaha akan mengikuti apa yang diperintahkan hati. Kita akan berpikir tentang apa yang bisa menyenangkan hati Tuhan, bagaimana melakukannya, mulai dari mana. Lalu pikiran kita akan memerintahkan tubuh kita untuk bergerak dan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan.
Alkitab berkata mengenai perceraian itu bukan disebabkan karena kurangnya komnikasi, melainkan merupakan hasil dari hati yang tegar dan keras Matius 19:8 “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.”
Jadi problem sesungguhnya adalah problem rohaniah. Ketegaran atau kekerasan hati adalah problem terbesar yang kita miliki. Suatu problem yang Allah ingin ubah, jika kita rela merendahkan diri dan mau melembutkan hati untuk menerima kasih karunia-Nya.
